Indotoplist.com : Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu jenis mamalia besar yang terdapat di Pulau Sumatera. Hampir seluruh Pulau Sumatera mulai dari Lampung sampai Aceh merupakan habitat gajah. Gajah Sumatera dapat ditemukan di berbagai tipe ekosistem. Mulai dari pantai sampai ketinggian di atas 1.750 meter seperti di Gunung Kerinci. Habitat gajah dapat berupa hutan primer, hutan sekunder bahkan di daerah pertanian. Habitat yang paling disenangi adalah hutan dataran rendah. | |
Tahun 1993 populasi gajah sumatera tinggal 44 kelompok atau diperkirakan antara 2.800 – 4.800 ekor. Terbesar ada di Propinsi Lampung sebanyak 13 kelompok. Sumatera Selatan, 8 kelompok. Jambi, 5 kelompok. Bengkulu, 2 kelompok. Riau, 11 kelompok. Sumatera Barat 1 kelompok dan Aceh 4 kelompok (Departemen Kehutanan, 1993). Dari jumlah tersebut, 14 kelompok berada di dalam kawasan konservasi dengan jumlah perkiraan 1.030 ekor dan sisanya di luar kawasan konservasi. Sebelum tahun 70an, populasi gajah di alam lebih besar dari sekarang, akan tetapi masalah yang timbul akibat gangguan satwa liar gajah terhadap masyarakat sumatera belum begitu tampak. Kondisi ini menunjukkan habitat gajah di Bumi Swarna Dwipa tersebut masih dalam keadaan seimbang. Dengan kata lain, ekosistem Pulau Sumatera belum terlalu terganggu. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meluasnya lahan pertanian serta meningkatnya pembangunan di segala sektor, maka sejak tahun 1980-an sering muncul masalah gangguan satwa liar gajah terhadap pemukiman, perkebunan dan perladangan masyarakat sumatera. Gangguan tersebut terjadi akibat dari perencanaan dan penggunaan tata ruang wilayah yang belum atau kurang memperhatikan satwa liar gajah sebagai faktor pertimbangan dalam penetapan tata ruang wilayah. | |
Habitat Gajah banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas sehingga menggunakan lebih dari satu tipe habitat. Hutan rawa; Tipe hutan ini dapat berupa rawa padang rumput, hutan rawa primer, atau hutan rawa sekunder yang didominasi oleh Gluta renghas, Campenosperma auriculata, C. Macrophylla, Alstonia spp, dan Eugenia spp. Hutan rawa gambut; Jenis-jenis vegetasi pada tipe hutan ini antara lain: Gonystilus bancanus, Dyera costulata, Licuala spinosa, Shorea spp., Alstonia spp., dan Eugenia spp. Hutan dataran rendah; Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 0-750 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. Hutan hujan pegunungan rendah; Yaitu tipe hutan yang berada pada ketinggian 750-1.500 m di atas permukaan air laut. Jenis-jenis vegetasi yang dominan adalah Altingia excelsa, Dipterocarpus spp., Shorea spp., Quercus spp., dan Castanopsis spp. | |
Persyaratan Hidup di Alam Naungan Gajah Sumatera termasuk binatang berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover) untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar sesuai dengan lingkungannya. Tempat yang sering dipakai sebagai naungan dan istirahat pada siang hari adalah vegetasi hutan yang lebat . photo: gajah bernaung Makanan Gajah Sumatera termasuk satwa herbivora sehingga membutuhkan ketersediaan makanan hijauan yang cukup di habitatnya. Gajah juga membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan mineral kalsium guna memperkuat tulang, gigi, dan gading. Karena pencernaannya yang kurang sempurna, ia membutuhkan makanan yang sangat banyak, yaitu 200-300 kg biomassa per hari untuk setiap ekor gajah dewasa atau 5-10% dari berat badannya. Air Gajah termasuk satwa yang sangat bergantung pada air, sehingga pada sore hari biasanya mencari sumber air untuk minum, mandi dan berkubang. Seekor gajah Sumatera membutuhkan air minum sebanyak 20-50 liter/hari. Ketika sumber-sumber air mengalami kekeringan, gajah dapat melakukan penggalian air sedalam 50-100 cm di dasar-dasar sungai yang kering dengan menggunakan kaki depan dan belalainya. Photo gajah mandi, Photo gajah mandi 2 & Photo gajah mandi 3 Garam mineral Gajah juga membutuhkan garam-garam mineral, antara lain : calcium, magnesium, dan kalium. Garam-garam ini diperoleh dengan cara memakan gumpalan tanah yang mengandung garam, menggemburkan tanah tebing yang keras dengan kaki depan dan gadingnya, dan makan pada saat hari hujan atau setelah hujan. Ruang atau wilayah jelajah (home range)Gajah merupakan mamalia darat paling besar yang hidup pada zaman ini, sehingga membutuhkan wilayah jelajah yang sangat luas.Ukuran wilayah jelajah gajah Asia bervariasi antara 32,4 - 166,9 km2. Wilayah jelajah unit-unit kelompok gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran dua kali lebih besar dibanding dengan wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Keamanan dan kenyamananGajah juga membutuhkan suasana yang aman dan nyaman agar perilaku kawin (breeding) tidak terganggu dan proses reproduksinya dapat berjalan dengan baik. Gajah termasuk satwa yang sangat peka terhadap bunyi-bunyian. Oleh karena itu, penebangan hutan yang dilakukan oleh perusahaan HPHA diperkirakan telah mengganggu keamanan dan kenyamanan gajah karena aktivitas pengusahaan dengan intensitas yang tinggi dan penggunaan alat-alat berat di dalamnya. | |
Perilaku sosial Hidup berkelompok Di habitat alamnya, gajah hidup berkelompok (gregarius). Perilaku berkelompok ini merupakan perilaku sosial yang sangat penting peranannya dalam melindungi anggota kelompoknya. Besarnya anggota setiap kelompok sangat bervariasi tergantung pada musim dan kondisi sumber daya habitatnya terutama makanan dan luas wilayah jelajah yang tersedia. Jumlah anggota satu kelompok gajah Sumatera berkisar 20-35 ekor, atau berkisar 3-23 ekor. Setiap kelompok gajah Sumatera dipimpin oleh induk betina yang paling besar, sementara yang jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut. Gajah yang sudah tua akan hidup menyendiri karena tidak mampu lagi mengikuti kelompoknya. Gajah jantan muda dan sudah beranjak dewasa dipaksa meninggalkan kelompoknya atau pergi dengan suka rela untuk bergabung dengan kelompok jantan lain. Sementara itu, gajah betina muda tetap menjadi anggota kelompok dan bertindak sebagai bibi pengasuh pada kelompok "taman kanak-kanak" atau kindergartens. Photo gajah hidup berkelompok Menjelajah Secara alami gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Jarak jelajah gajah bisa mencapai 7 km dalam satu malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu mencapai 15 km per hari. Kecepatan gajah berjalan dan berlari di hutan (untuk jarak pendek) dan di rawa melebihi kecepatan manusia di medan yang sama. Gajah juga mampu berenang menyeberangi sungai yang dalam dengan menggunakan belalainya sebagai "snorkel" atau pipa pernapasan. Selama menjelajah, kawanan gajah melakukan komunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya. Gajah berkomunikasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalainya. Dewasa ini ditemukan bahwa gajah juga berkomunikasi melalui suara subsonik yang bisa mencapai jarak sekitar 5 km. Penemuan ini telah memecahkan misteri koordinasi pada kawanan gajah yang sedang mencari makanan dalam jarak jauh dan saling tidak melihat satu sama lain. Kawin Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekwensinya mencapai puncak bersamaan dengan masa puncak musim hujan di daerah tersebut. Gajah jantan sering berperilaku mengamuk atau kegilaan yang sering disebut musht dengan tanda adanya sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini terjadi 3-5 bulan sekali selama 1-4 minggu. Perilaku ini sering dihubungkan dengan musim birahi, walaupun belum ada bukti penunjang yang kuat. | |
Perilaku individu Makan Gajah merupakan mamalia terrestrial yang aktif baik di siang maupun malam hari. Namun, sebagian besar dari mereka aktif dari 2 jam sebelum petang sampai 2 jam setelah fajar untuk mencari makan. Hal ini sependapat bahwa, gajah sering mencari makan sambil berjalan di malam hari selama 16-18 jam setiap hari. la bukan satwa yang hemat terhadap pakan sehingga cenderung meninggalkan banyak sisa makanan bila masih terdapat makanan yang lebih baik. Minum Pada waktu berendam di sungai, gajah minum dengan mulutnya. Sementara, pada waktu di sungai yang dangkal atau di rawa gajah menghisap dengan belalainya. Gajah mampu menghisap mencapai 9 liter air dalam satu kali isap. Berkubang Gajah sering berkubang di lumpur pada waktu siang atau sore hari di saat sambil mencari minum. Perilaku berkubang juga penting untuk melindungi kulit gajah dari gigitan serangga ektoparasit, selain untuk mendinginkan tubuhnya. photo gajah berkubang Menggaram (salt lick) Gajah mencari garam dengan menjilat-jilat benda dan apapun yang mengandung garam dengan belalainya. Gajah juga sering melukai bagian tubuhnya agar dapat menyikat darahnya yang mengandung garam. Beristirahat Gajah tidur dua kali sehari, yaitu pada tengah malam dan siang hari. Pada malam hari, gajah sering tidur dengan merebahkan diri kesamping tubuhnya, memakai "bantal" terbuat dari tumpukan rumput dan kalau sudah sangat lelah terdengar pula bunyi dengkur yang keras. Sementara itu, pada siang hari gajah tidur sambil berdiri di bawah pohon yang rindang. Perbedaan perilaku ini, mungkin berkaitan dengan kondisi keamanan lingkungan. Apabila kondisinya kurang aman maka gajah akan memilih tidur sambil berdiri, untuk menyiapkan diri jika terjadi gangguan. | |
Reproduksi Di dalam pemeliharaan, gajah dapat mencapai umur 70 tahun , dan selama hidupnya gajah jantan tidak terikat pada satu ekor betina pasangannya. Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun. | |
Minggu, 07 November 2010
Mengenal Gajah Sumatera
Selasa, 02 November 2010
Enam Orangutan Sumatera Dipasangi Alat Pengamat
Orang Utan (Foto ANTARA/Saptono)
Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera Frankfurt Zoological Society (FZS) Julius Paolo Siregar di Jambi, Selasa mengatakan, pemasangan alat tersebut dilakukan melalui operasi implan di Stasiun Reintroduksi Sungai Pengian, Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.
Menurut Julius, kegiatan ini merupakan langkah maju yang sangat penting bagi kegiatan reintroduksi orangutan sumatera. Orangutan yang dipasangi pemancar itu akan memberikan data distribusi di ekosistem kawasan Bukit Tigapuluh yang menjadi areal penglepasannya.
"Dengan dipasangi transmiter akan mempermudah pengamatan dan pengawasan terhadap hewan dilindungi itu. Apakah orangutan yang dilepasliarkan mampu bertahan hidup di alam atau tidak. Juga akan diketahui daerah jelajah setiap orangutan yang dilepasliarkan," ujar Julius.
Orangutan itu merupakan hasil sitaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara yang berusia 6-14 tahun. Orangutan itu kemudian menjalani program rehabilitasi di Jambi untuk mengembalikan kemampuan hidup di alam liar.
Kepingan transmiter dengan diameter sekitar tiga centimeter dan tebal satu centimeter itu ditanam di tengkuk orangutan. Transmiter ini secara otomatis aktif pada pukul 07.00 WIB hingga 15.00 WIB setiap hari dan baterainya mampu bertahan hingga dua tahun, katanya.
Sementara itu, drh Simone Diane Vitali dari Perth menyatakan sinyal yang dikeluarkan oleh transmiter tidak akan mengganggu perilaku orangutan. Semakin besar ukuran Orangutan maka operasi implan akan semakin mudah.
"Menjadi pengalaman besar bagi saya karena berkesempatan melakukan operasi pada satwa dilindungi yang sudah sangat langka di dunia," ujarnya.
Operasi implantasi keenam orangutan seluruhnya berjalan sesuai rencana dan saat ini masih dalam tahap pengamatan atas luka bekas jahitan.
Saat ini keenam orangutan tersebut masuk dalam tahap penyembuhan luka bekas jahitan. Setelah dinyatakan tidak ada permasalahan akan dilepasliarkan di sejumlah titik di kawasan ekosistem Bukit Tigapuluh menunggu musim buah tiba.
FZS bekerja sama dengan Kementrian Kehutanan, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Pan Eco menjalankan program reintroduksi orangutan sumatera di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Sejak 2002, FZS telah merehabilitasi 136 ekor Prangutan dan 119 ekor di antaranya telah kembali ke alam bebas.
(ANT263/C/s018)
Diprediksi, sejak 2008 badak sumatera sudah punah.
Keberadaan Badak Sumatera di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat saat ini diperkirakan sudah punah, karena jejaknya sudah tidak ditemukan lagi.
Staf Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Dedi di Kerinci, Jumat (29/10/2010), mengatakan, dari patroli-patroli, pemantauan dan pencatatan yang dilakukan sejak 2008, pihaknya tidak lagi menemukan jejak, bekas kubangan, goresan cula di batang pohon dan aroma urinenya. Tanda-tanda tersebut adalah kebiasaan naluriah hewan dalam menandai daerah teritorialnya.
Artinya, sejak 2008 diyakini sudah punah dari rimba TNKS, meskipun pihak TNKS hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi kepada Kementrian Kehutanan.
Namun, meskipun di rimba TNKS keberadaan badak Sumatera tersebut sudah tidak ditemukan lagi, hal tersebut tidak berarti keberadaan badak Sumatera sudah punah di Sumatrea sebagai habitat aslinya.
“Mungkin di daerah atau kawasan lain populasi hewan dilindungi itu masih cukup besar, seperti di Lampung dan Bengkulu,” kata Dedi.
Di Kerinci habitat badak Sumatera sebelumnya dapat ditemukan di Lempur, Birun, Ulu Sipirok dan Bukit Tapan. Saat ini di kawasan tersebut sama sekali sudah tidak ditemukan lagi adanya tanda-tanda keberadaannya.
Di sisi lain, meskipun satwa langka badak Sumatera sudah hilang dari rimba TNKS, namun adapula jenis satwa lainnya yang sebelumnya telah dinyatakan punah ternyata masih ada, seperti Kelinci Kerinci dan burung Abang Pipi (Lophura Inornata). “Ternyata belum punah dari rimba TNKS, hanya saja untuk dapat menjumpai satwa ini tergolong sangat sulit,” ungkap Dedi.
Badak Sumatera Berkurang 50 Persen
(wwf.or.id/ANTARA)
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kemenhut, Harry Santoso di Jakarta, Jumat, memaparkan, populasi Badak Sumatera diketahui keberadaannya hanya di Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Way Kambas, dan Taman Nasional Bukit Barisan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, ujar dia, populasi Badak Sumatera tersebut turun hingga sekitar 50 persen.
Pada tahun 2006, diperkirakan populasi Badak Sumatera berkisar 250 ekor, sedangkan sebelum tahun 2006 diperkirakan jumlahnya 420 - 875 ekor.
"Di Indonesia ada dua jenis badak, yaitu Badak Sumatera dan Badak Jawa," kata Harry.
Untuk Badak Jawa, keberadaannya yang terdeteksi hanya di kawasan Semenanjung Ujung Kulon diperkirakan hanya berjumlah 38 - 65 ekor, yang berarti masih belum meningkat sejak sekitar 25 tahun yang lalu.
Harry menjelaskan, Kementerian Kehutanan telah memiliki Strategi Konservasi Badak Indonesia yang telah diterbitkan sejak tahun 2007.
Di dalam rancangan strategi tersebut, bila perlindungan dilakukan secara benar dan gangguan habitat dapat diminimalisir, maka seharusnya populasi badak Indonesia diharapkan dapat meningkat rata-rata tiga persen per tahun."Namun, kondisi ini belum dapat dicapai," katanya.
Menurut analisis Kemenhut, hal tersebut disebabkan beberapa kendala yaitu kesadaran masyarakat yang masih kurang akan pentingnya hutan dan ekosistem, perambahan hutan, konflik kawasan, serta perburuan yang terindikasi terus terjadi hingga saat ini.
Duta badak
Harry juga memaparkan, untuk lebih memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat, Kementerian Kehutanan kembali akan mengadakan ajang kontes Miss Big Indonesia 2010 yang finalnya akan dilaksanakan di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, pada 25 September 2010.
"Miss Big mengemban misi yaitu memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan badak Indonesia," katanya.
Ia juga menegaskan, melestarikan badak di habitatnya pada akhirnya akan memberikan kontribusi positif terhadap hutan hujan tropis.
Hal tersebut, lanjutnya, juga dapat mencegah perubahan iklim yang ekstrem yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia pada saat ini. (M040/B012)
Kehamilan Badak Sumatera Pecahkan Rekor 112 Tahun
DOK TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Ratu dan Andalas, sepasang badak Sumatera yang masing-masing berusia 9 tahun, dalam proses kawin. Kehamilan Ratu adalah yang pertama terjadi di Indonesia, di pusat penangkaran.
JAKARTA, KOMPAS.com — Walaupun kelahiran anak Ratu, badak berusia 9 tahun berbobot sekitar 525 kg, diperkirakan bulan Mei 2011, berita kehamilan badak sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis dari sebuah desa di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung, itu sudah mendunia dan disambut sukacita para penggiat konservasi di Indonesia dan dunia.
"Keberhasilan Ratu mengandung bayinya merupakan hasil kombinasi dari ilmu pengetahuan yang baik, kerja sama internasional antara pemerintah, LSM, dan kebun-kebun binatang, kerja sama yang erat dan waktu yang tepat, serta ketelatenan dari para personal di tempat penangkaran," kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Jumat (19/2/2010) di Jakarta.
Pejantan badak sumatera yang menghamili Ratu adalah Andalas, yang juga berusia 9 tahun, dengan bobot sekitar 765 kg. Andalas lahir 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari perkawinan induk badak sumatera jantan bernama Ipuh dan badak betina bernama Emi. Pada Februari 2007, Andalas dikirim ke Indonesia dari Los Angeles Zoo, USA, dan ditempatkan di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Andalas diperlakukan istimewa karena ia lahir dan besar di lingkungan yang bebas penyakit. Andalas diberikan berbagai vaksin khusus untuk melindunginya dari kemungkinan penyakit baru yang akan dia hadapi di hutan tropis rumah aslinya. Bahkan, agar terlindung dari gigitan lalat tabanid dan nyamuk hutan, ia dibuatkan kelambu raksasa.
Darori menjelaskan, sang calon bapak, Andalas, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan merupakan anak badak pertama yang dihasilkan dari penangkaran badak dalam waktu lebih dari 112 tahun. Adapun kehamilan Ratu merupakan yang pertama di Indonesia setelah lebih dari 112 tahun.
Menurut dia, terjadinya kandungan badak sumatera yang pertama ini, selain telah melalui proses yang panjang, bukanlah suatu kejadian yang biasa. Andalas dan Ratu dapat digabungkan atas kerja sama dan keinginan yang baik dalam rangka kerja sama internasional sebagai upaya menyelamatkan spesies yang terancam kepunahan.
Darori melukiskan, dari 38 kali perkawinan, belum terjadi fetus. Ketika terjadi fetus, ada empat kali keguguran. Tanggal 4 dan 5 Desember 2009, Andalas berhasil menaiki Ratu sebanyak 17 kali dan satu kali berhasil melakukan perkawinan yang sempurna setelah ereksi yang penuh pada Andalas, penetrasi yang sempurna, kemudian terjadi ejakulasi. Tanggal 22 Desember 2009, pemeriksaan USG dilakukan terhadap Ratu, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Pada tanggal 24 dan 25 Desember, Andalas kembali digabungkan dengan Ratu dan terjadilah perkawinan sempurna di mana terjadi ereksi dan intromisi penuh selama 28 menit dan akhirnya terjadi ejakulasi,"ungkapnya.
Dokter Hewan Andriansyah yang menangani Ratu mengatakan, tanggal 29 Januari 2010 atau 16 hari setelah perkawinan Ratu dan Andalas, pemeriksaan USG pun dilakukan dan hasilnya menunjukkan adanya kantung embrio pada uterus kanan Ratu. Ratu kemudian diduga hamil.
"Ketika diperiksa USG lagi tanggal 16 Februari 2010, ditemukan gambar kantung embrio berukuran sekitar 20 x 24 mm disertai fetus dan tali pusar yang berkembang, dan Ratu dinyatakan bunting," paparnya.
Ketua Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono mengatakan, keberhasilan penangkaran spesies ini juga akan memberikan kemungkinan pembuatan suatu model program yang sama terhadap badak jawa. Populasi badak jawa saat ini diperkirakan sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon.
"Keberhasilan Ratu mengandung bayinya merupakan hasil kombinasi dari ilmu pengetahuan yang baik, kerja sama internasional antara pemerintah, LSM, dan kebun-kebun binatang, kerja sama yang erat dan waktu yang tepat, serta ketelatenan dari para personal di tempat penangkaran," kata Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Jumat (19/2/2010) di Jakarta.
Pejantan badak sumatera yang menghamili Ratu adalah Andalas, yang juga berusia 9 tahun, dengan bobot sekitar 765 kg. Andalas lahir 13 September 2001 di Cincinnati Zoo, USA, dari perkawinan induk badak sumatera jantan bernama Ipuh dan badak betina bernama Emi. Pada Februari 2007, Andalas dikirim ke Indonesia dari Los Angeles Zoo, USA, dan ditempatkan di Suaka Rhino Sumatera, Taman Nasional Way Kambas, Lampung.
Andalas diperlakukan istimewa karena ia lahir dan besar di lingkungan yang bebas penyakit. Andalas diberikan berbagai vaksin khusus untuk melindunginya dari kemungkinan penyakit baru yang akan dia hadapi di hutan tropis rumah aslinya. Bahkan, agar terlindung dari gigitan lalat tabanid dan nyamuk hutan, ia dibuatkan kelambu raksasa.
Darori menjelaskan, sang calon bapak, Andalas, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan merupakan anak badak pertama yang dihasilkan dari penangkaran badak dalam waktu lebih dari 112 tahun. Adapun kehamilan Ratu merupakan yang pertama di Indonesia setelah lebih dari 112 tahun.
Menurut dia, terjadinya kandungan badak sumatera yang pertama ini, selain telah melalui proses yang panjang, bukanlah suatu kejadian yang biasa. Andalas dan Ratu dapat digabungkan atas kerja sama dan keinginan yang baik dalam rangka kerja sama internasional sebagai upaya menyelamatkan spesies yang terancam kepunahan.
Darori melukiskan, dari 38 kali perkawinan, belum terjadi fetus. Ketika terjadi fetus, ada empat kali keguguran. Tanggal 4 dan 5 Desember 2009, Andalas berhasil menaiki Ratu sebanyak 17 kali dan satu kali berhasil melakukan perkawinan yang sempurna setelah ereksi yang penuh pada Andalas, penetrasi yang sempurna, kemudian terjadi ejakulasi. Tanggal 22 Desember 2009, pemeriksaan USG dilakukan terhadap Ratu, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Pada tanggal 24 dan 25 Desember, Andalas kembali digabungkan dengan Ratu dan terjadilah perkawinan sempurna di mana terjadi ereksi dan intromisi penuh selama 28 menit dan akhirnya terjadi ejakulasi,"ungkapnya.
Dokter Hewan Andriansyah yang menangani Ratu mengatakan, tanggal 29 Januari 2010 atau 16 hari setelah perkawinan Ratu dan Andalas, pemeriksaan USG pun dilakukan dan hasilnya menunjukkan adanya kantung embrio pada uterus kanan Ratu. Ratu kemudian diduga hamil.
"Ketika diperiksa USG lagi tanggal 16 Februari 2010, ditemukan gambar kantung embrio berukuran sekitar 20 x 24 mm disertai fetus dan tali pusar yang berkembang, dan Ratu dinyatakan bunting," paparnya.
Ketua Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono mengatakan, keberhasilan penangkaran spesies ini juga akan memberikan kemungkinan pembuatan suatu model program yang sama terhadap badak jawa. Populasi badak jawa saat ini diperkirakan sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon.
Harimau Sumatera Terperangkap Jaring Babi
"Harimau yang terjerat perangkap babi hutan selama tiga jam itu ditunggui induknya dan berhasil dilepaskan kembali oleh seorang warga, Tengku Abrar Muda," kata Camat Trumon Timur Lahmuddin di Tapaktuan, Kamis.
Anak harimau yang memiliki tinggi sekitar 50 sentimeter dan panjang satu meter itu terperangkap sekitar pukul 06.00 WIB di sebuah kebun yang berada 500 meter dari pemukiman penduduk.
Lahmuddin mengatakan terjeratnya satwa langka dan dilindungi tersebut menjadi tontonan ratusan warga di daerah perbatasan Aceh Selatan dengan Kota Subulussalam itu.
"Peristiwa terjeratnya satwa dilindungi itu juga telah kami laporkan kepada petugas Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Aceh Selatan. Kami juga berharap ada penanganan untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan," kata Lahmuddin.
Ia mengatakan sejak dua pekan terakhir hewan yang kerap dipanggil "nenek" oleh masyarakat di daerah itu sering terlihat di sekitar pemukiman penduduk, namun hingga saat ini belum ada keluhan dari warga.
"Warga di daerah ini meyakini apabila harimau itu tidak diganggu maka satwa liar dan buas itu juga tidak akan mengganggu, namun saya juga mengimbau warga untuk lebih berhati-hati," katanya.
Awal 2009, Yusrin Zebua (35) seorang pemburu babi hutan dari Penanggalan, Kota Subulussalam diterkam harimau saat berupaya melepasnya dari jeratan jaring yang terbuat dari kawat dan besi di Desa Padang Harapan sekitar 20 kilometer dari Desa Titi Poben.
Peristiwa terakhir terjadi pada 12 Oktober 2010, seorang petani yang juga pencari rotan Martunis (25) warga Gampong (Desa) Panton Luas Kecamatan Tapaktuan ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat dimangsa harimau.(*)
Harimau Sumatera Ditarget Berlipat Dua
Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan naskah Rencana Pemulihan Harimau Indonesia 2011-2022, yang menargetkan populasi harimau sumatera bertambah 100 persen dalam 11 tahun. Program itu diperkirakan butuh dana 175 juta dollar AS dan akan menjadi bagian dari Global Tiger Recovery Plan.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori, Selasa (6/7/2010) di Jakarta. "Pada 12-14 Juli, Indonesia akan menjadi tuan rumah Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting yang diikuti 13 negara pemilik harimau alami. Dalam pertemuan itu, Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas untuk diintegrasikan dengan Global Tiger Recovery Plan," kata Darori.
Darori menjelaskan, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di alam liar tinggal sekitar 400 ekor. Sementara itu, jumlah harimau sumatera di berbagai kebun binatang di dalam dan luar negeri berkisar 250 ekor.
"Itu merupakan subspesies harimau asli Indonesia yang terakhir. Pada tahun 1940-an, subspesies harimau bali (Panthera tigris balica) punah. Pada tahun 1980-an, harimau jawa (Panthera tigris sondaica) punah. Harimau sumatera tidak boleh punah. Kami optimistis, dengan Rencana Pemulihan Harimau Indonesia 2011-2022, jumlah harimau di alam liar pada 2022 akan mencapai 800 ekor," kata Darori.
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan Harry Santoso menjelaskan, titik berat rencana pemulihan itu adalah konservasi in situ atau konservasi di habitat asli harimau sumatera. Dalam Rencana Pemulihan Harimau Indonesia dipilih enam bentang alam terpenting bagi konservasi harimau. Keenamnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan, TN Kerinci Seblat, TN Kerumutan, TN Bukit Tigapuluh, Balai Rejang Selatan, dan Ulu Masen.
"Total bentang alam habibat asli harimau sumatera tersebar di 18 lokasi. Akan tetapi, enam bentang alam itu yang terpenting, mencakup sekitar 70 persen luas habitat asli harimau sumatera. Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas dalam Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting. Dari pertemuan di Bali itu diharapkan ada komitmen pendanaan global. Saat ini total anggaran Direktorat Jenderal PHKA berkisar Rp 15 miliar per tahun untuk mengonservasi semua satwa. Tidak ada dana khusus harimau," kata Harry.
Forest and Biocarbon Coordinator Fauna and Flora International, Andjar Rafiastanto, mengharapkan, pertemuan Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting mampu menyentuh masalah perdagangan gelap harimau. "Kita harus membangun komitmen negara peserta untuk mencegah penyelundupan harimau. Sampai sekarang China masih menjadi konsumen harimau selundupan dari Singapura dan Hongkong," kata Andjar.
T Haryo Wibisono dari Forum Harimau Kita menyatakan, tutupan habitat asli harimau sumatera telah banyak berkurang dan 70 persen habitat asli belum ditetapkan sebagai kawasan konservasi. "Namun, kita harus belajar dari kepunahan harimau bali dan harimau jawa. Hutan di Bali dan Jawa yang masih ada tidak mampu cegah kepunahan. Dalam jangka pendek, kita harus memprioritaskan proteksi bagi harimau sumatera," katanya.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori, Selasa (6/7/2010) di Jakarta. "Pada 12-14 Juli, Indonesia akan menjadi tuan rumah Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting yang diikuti 13 negara pemilik harimau alami. Dalam pertemuan itu, Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas untuk diintegrasikan dengan Global Tiger Recovery Plan," kata Darori.
Darori menjelaskan, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di alam liar tinggal sekitar 400 ekor. Sementara itu, jumlah harimau sumatera di berbagai kebun binatang di dalam dan luar negeri berkisar 250 ekor.
"Itu merupakan subspesies harimau asli Indonesia yang terakhir. Pada tahun 1940-an, subspesies harimau bali (Panthera tigris balica) punah. Pada tahun 1980-an, harimau jawa (Panthera tigris sondaica) punah. Harimau sumatera tidak boleh punah. Kami optimistis, dengan Rencana Pemulihan Harimau Indonesia 2011-2022, jumlah harimau di alam liar pada 2022 akan mencapai 800 ekor," kata Darori.
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan Harry Santoso menjelaskan, titik berat rencana pemulihan itu adalah konservasi in situ atau konservasi di habitat asli harimau sumatera. Dalam Rencana Pemulihan Harimau Indonesia dipilih enam bentang alam terpenting bagi konservasi harimau. Keenamnya adalah bagian dari kawasan Taman Nasional (TN) Bukit Barisan Selatan, TN Kerinci Seblat, TN Kerumutan, TN Bukit Tigapuluh, Balai Rejang Selatan, dan Ulu Masen.
"Total bentang alam habibat asli harimau sumatera tersebar di 18 lokasi. Akan tetapi, enam bentang alam itu yang terpenting, mencakup sekitar 70 persen luas habitat asli harimau sumatera. Rencana Pemulihan Harimau Indonesia akan dibahas dalam Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting. Dari pertemuan di Bali itu diharapkan ada komitmen pendanaan global. Saat ini total anggaran Direktorat Jenderal PHKA berkisar Rp 15 miliar per tahun untuk mengonservasi semua satwa. Tidak ada dana khusus harimau," kata Harry.
Forest and Biocarbon Coordinator Fauna and Flora International, Andjar Rafiastanto, mengharapkan, pertemuan Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting mampu menyentuh masalah perdagangan gelap harimau. "Kita harus membangun komitmen negara peserta untuk mencegah penyelundupan harimau. Sampai sekarang China masih menjadi konsumen harimau selundupan dari Singapura dan Hongkong," kata Andjar.
T Haryo Wibisono dari Forum Harimau Kita menyatakan, tutupan habitat asli harimau sumatera telah banyak berkurang dan 70 persen habitat asli belum ditetapkan sebagai kawasan konservasi. "Namun, kita harus belajar dari kepunahan harimau bali dan harimau jawa. Hutan di Bali dan Jawa yang masih ada tidak mampu cegah kepunahan. Dalam jangka pendek, kita harus memprioritaskan proteksi bagi harimau sumatera," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)